Thread kali ini mohon dibaca sampai tuntas, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam), konsep penciptaan manusia adalah kisah mengenai Adam dan Hawa. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan langsung melalui tangan-Nya. Kemudian diajari banyak hal dan diizinkan untuk tinggal di surga. Singkat cerita, Adam merasa kesepian karena hanya dia manusia yang ada di surga. Tuhan pun menciptakan Hawa sebagai teman hidup Adam.
Adam dan Hawa diperbolehkan melakukan apapun di surga, kecuali memakan buah terlarang (Khuldi /Apel Pengetahuan). Singkat cerita, sosok yang dianggap menentang Tuhan (Iblis) berhasil mengelabuhi mereka berdua. Akhirnya mereka memakan buah itu dan melanggar perintah Tuhan (Dosa). Sebagai hukuman, Tuhan menurunkan Adam dan Hawa dari surga. Sementara iblis yang lebih dulu diturunkan, bersumpah akan menyesatkan keturunan Adam dan Hawa sampai hari pembalasan (Hari dimana manusia harus kembali menghadap ke Tuhan).
Dalam konsep agama lain pun memiliki benang merah yang sama. Baik agama yang berkonsep politheisme maupun monotheiseme, memiliki kisah yang menyiratkan penciptaan manusia dan kehidupan berasal dari sesuatu yang satu. Kemudian menjadi dua, baik nama-nama dewa maupun unsur-unsur pembentuk alam semesta.
Saat kita masih kecil, banyak yang mengatakan bahwa kita bagaikan hidup di surga. Kita lebih mudah merasa bahagia daripada saat dewasa. Baru saja bertengkar dengan teman, lima menit kemudian sudah baikan. Kita bebas mengekspresikan emosi kita. Sedih, marah, takut, dan kecewa kita ungkapkan apa adanya. Kemudian semakin kita bertambah usia, kita mulai diprogram dan diajari mana yang baik mana yang buruk. Yang terkadang dianggap general namun sejatinya subjektif.
Ketika kita bersedih karena kehilangan sebuah mainan, kita dilarang untuk menangis. Karena hal itu dianggap buruk, dan menekan emosi sedih tersebut dianggap baik. Akhirnya semakin kita dewasa, semakin kita tidak bebas. Kita dihadapkan pada berbagai dualitas di semesta ini. Kita seolah jatuh dari surga dimana kita bebas melakukan apapun. Kita merasa menderita saat dewasa karena terlalu banyak terikat aturan dan program yang ditanamkan sejak kecil.
Salah satu program yang ditanamkan adalah selalu menjadi yang terbaik. Hidup adalah persaingan dan itu dimulai di dunia pendidikan. Bagi mereka yang sering mendapatkan peringkat akan di anggap sebagai anak yang baik. Kemudian mendapatkan berbagai hadiah dan pujian. Sementara mereka yang terbawah ataupun harus tinggal di kelas dianggap buruk dan tak mendapatkan apresiasi apapun. Padahal bukankah keduanya juga sama-sama murid di institusi yang sama? Manusia semakin terpisah dan meruncing menjadi dua sisi. Baik, buruk, hina dan mulia, kaya dan miskin, yang sebenarnya subyektif dan hanya berlaku untuk seseorang namun dipaksakan di samaratakan ke semua orang.
Ketika seseorang sakit, hal itu dianggap buruk. Karena pertanda seseorang tidak menjaga kesehatannya. Padahal, sakit juga merupakan tubuh untuk kembali sehat. Mengeluarkan virus melalui bersin maupun batuk misalnya. Sehingga terkadang dalam hidup ini, kita maunya menerima yang enak-enak saja. Segala hal yang menimbulkan rasa suka kita peluk. Sementara hal-hal yang menimbulkan duka kita tolak. Padahal keduanya sama baiknya.
Jalaluddin Rumi pernah mengatakan "Di atas yang baik dan buruk, ada sebuah taman yang indah. Ayo kita kesana, Tuhan sudah menunggu kita"
Kalimat ini juga membuat saya ingin menuliskan opini ini, jika kita ingin kembali ke surga. Merasakan kedamaian, ketenangan seperti yang dalam kitab suci maupun para pemuka agama khotbahkan. Kita harus melampaui berbagai hal yang bersifat dualitas di dunia ini. Melampaui artinya menerima dua hal yang dianggap berbeda dengan sikap yang sama. Ketika kamu menjadi juara atas sebuah lomba, kamu pasti akan menerima dengan senang dan bahagia. Ketika kamu kalah pun, perasaan yang kamu rasakan juga sama. Gagal dan berhasil sama-sama kamu terima dan syukuri.
Ketika kita kita hanya mau menerima satu bagian saja. Yang baik-baik saja, yang indah-indah saja. Jika diibaratkan kehidupan ini adalah timbangan, kita akan miring sebelah. Kita akan semakin menderita, kita akan bertarung dengan bagian-bagian dari dalam kita sendiri. Harapan kita adalah menerima yang baik saja, namun apabila realitanya sebaliknya? Itulah yang disebut neraka.
Tulisan ini mengerucut pada satu kesimpulan, Dualitas akan selalu ada di dunia ini, tugas kita bukan menerima satu bagian saja. Namun menerima utuh keduanya. Jika dikaitkan dengan agama, artinya kita menerima setiap ketentuan Tuhan. Menerima Tuhan apa adanya, tidak hanya hal-hal yang dianggap berkah namun juga hal-hal yang dianggap musibah. Karena keduanya sama baiknya, keduanya sudah benar adanya.

Comments
Post a Comment